MEMERANGI TEKANAN WAKTU

Diposkan oleh Edwin Patrisce Papilaya on Kamis, 27 Januari 2011

Dalam era yang menuntut kita untuk menyelesaikan segala hal dengan cepat seperti saat ini, kita akan sangat mudah terjebak dalam rutinitas yang padat. Anda atau diri saya sendiri mungkin sedang bekerja keras untuk mencapai suatu karir yang penting atau membesarkan usaha. Tak jarang kesibukan seperti itu menempatkan kita pada sebuah tekanan waktu. 

Ada sebuah kisah tentang keluarga yang semula hidup sederhana. Berkat kerja keras pasangan suami istri itu dapat membangun sebuah bisnis yang cukup besar. Tetapi mereka lupa dan benar-benar terjebak dalam kesibukan yang sangat menyita waktu. Bahkan mereka menjadi sangat jarang berkomunikasi dengan Ani, 4 tahun, putri semata wayang mereka. 

Suatu ketika Ani bermain dan melukis diri dan keluarganya. Kerinduan  pada kehangatan kasih sayang sebuah keluarga ia luapkan pada lukisan yang ia goreskan pada mobil mahal kesayangan ayahnya. Ia tidak menyadari bahwa apa yang ia lakukan akan memancing amarah orang tuanya. Tatkala sang ayah mengetahui mobil mahalnya penuh dengan goresan coretan-coretan, maka ia sangat marah. Dengan penuh amarah, sang ayah langsung menghukum Ani. Sampai-sampai pergelangan tangan kanan Ani  terluka. Selama dua hari tak dihiraukannya, sampai pada akhirnya diketahui bahwa  luka sudah parah dan baru segera dilarikan ke rumah sakit. Tetapi sudah terlambat, dokter mengatakan bahwa pergelangan tangan Ani harus  diamputasi. 

Pada saat Ani tersadar sedang dirawat di rumah sakit dan tangan  kanannya tidak ada, ia menangis dan memohon ampun kepada ayahnya. Ia mengira  tangan kanannya disembunyikan oleh ayahnya. Ia berkata, "Ayah, saya berjanji  tidak akan mencorat-coret mobil Ayah lagi. Saya berjanji tidak akan nakal  lagi. Tapi tolong Ayah, kembalikan tangan kanan saya." 

Sang ayah menangis mendengar kalimat-kalimat penyesalan yang terlontar  dari mulut putrinya. Ia sangat menyesal karena telah menghukum Ani, putri  yang sangat ia cintai. Padahal sebelumnya ia mengira bahwa kesuksesan yang berhasil ia bangun dan mobil mahal itu sangat berharga. Maka sejak  kejadian itu ia merasa bahwa harta dan kesuksesan yang telah ia peroleh begitu  hampa dan tidak berarti sama sekali. Akhirnya, ia bunuh diri karena tidak  tahan menyadari kenyataan pahit tentang dirinya. 

Sebenarnya bekerja keras hingga lupa waktu bukan hanya terjadi pada  orang tua Ani saja. Banyak sekali orang-orang yang terlalu hanyut dengan  pekerjaan untuk meningkatkan kualitas hidup, terutama orang-orang yang berada di kota-kota besar. Akibatnya, mereka menjadi buta karena kehilangan identitas dan cenderung 
bersikap reaktif karena tidak lagi peka pada hal-hal yang  akan terjadi. 

Dampak berikutnya yang mereka rasakan adalah kehidupan yang terasa begitu hampa. Hal itu merupakan realita yang tidak dapat disangkal lagi.  Konsultan bisnis Tom Peters meneliti dan telah menemukan fakta bahwa lebih  dari 50% pebisnis eksekutif di Amerika merasa 'emptyness' atau kehidupan  yang hampa. 

Pada dasarnya, berlomba-lomba berusaha keras bukanlah suatu hal yang  keliru. Tetapi jangan sampai padatnya kesibukan menjadikan kita kehilangan identitas. Oleh sebab itu, jangan pernah lupa meluangkan waktu khusus  untuk menyadari kenyataan tentang diri sendiri, yaitu hal-hal yang paling  berharga bagi kita dan apa saja yang bisa kita lakukan. 

Langkah seperti itu merupakan suatu bentuk refleksi diri dan akan  sangat membantu kita dalam menempatkan prioritas. Bila kita benar-benar  berkomitmen untuk mencapai prioritas tersebut maka kita akan mudah memerangi tekanan waktu, dimana kita lebih siap meningkatkan kemampuan, merespon keadaan  atau tantangan yang semakin besar dengan baik serta menjadikan kehidupan  kita semakin berarti. 


Bacalah pesan di bawah ini : 



Selamat mencoba ! 

Kutipan dari : Andrew Ho 

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar

posting Posts Plugin for WordPress, Blogger...