Carut Marut Tentangmu

Diposkan oleh Edwin Patrisce Papilaya on Minggu, 17 April 2011

Selamat pagi,

Pagi ini begitu bening dengan senyummu di pelupuk mata. Ternyata masih saja terus kurindukan senyummu. Mendekapmu adalah kenikmatan ketika energiku serasa mengalir deras. Bukan, bukan gairah yang meletup-letup, tapi mungkin cuma berupa getar carut marut seluruh perasaan kita pada saat itu. Barangkali kamu pun seperti itu sayang.

Kemarin hampir sepanjang waktu aku seperti selalu tercium baumu. Parfum dan semua yang menguap dari tubuhmu. Apa yang akan kita lakukan setelah ini? Pertanyaan itu menderu-deru sepanjang waktu sampai saat ini, tanpa bisa kita jawab sempurna. Jika di satu waktu kita tahu bahwa tibalah segera saatnya kita segera merenggangkan genggaman tangan. Kita tak bisa bertahan dengan cara seperti ini. tempat ini sudah mengubah kita jadi semacam ini. Kota yang dulu di masa kuliah tak pernah kita inginkan jadi tempat bernaung, sudah menyedot kita begitu kuat. Lihtlah hasilnya, bukan saja kediriian kita yang ikut terbawa, bahkan seluruh sumsum rasa dan cara berpikir kita pun menjadi begitu rumit. Dari masa lalu, kita tak lagi terlihat sederhana. Memandang diri kita sendiri saat ini dari masa lalu, akan membuat kita tampak begitu konyol dan egois. 

Cinta tak nampak bagai misteri sebenarnya, kita hanya terlalu naif memahaminya dengan penggal-penggal emosi dan kesadaran kita. Aku berangkat dari cita-cita, dari semua yang aku letakkan di atas idealisme dan harapan akan kesempurnaan. Juga ketika kudengar ceritamu, barangkali kamu pun tak jauh dari bayangan kanak-kanak kita yang sederhana dan selalu gembira. Beginilah kita jadinya. Aku belum mampu beranjak dari bibirmu yang terasa seperti buah anggur ketika kusentuh.  Kita sama-sama terpesona, bukan oleh apa yang ada pada diri kita. Yang dulu pernah begitu jauh dari angan-angan jadi begitu dekat. Dan entah energi darimana, membuatmu begitu hangat dan lekat. 

Sayangku,
Tugas kita hanyalah menafsir gerak daun jatuh, menafsir tiap embun yang menitik di lembaran daunnya. Akan selalu ada kata yang terlepas dari suasana. Sebab bukankah pada tiap tangkap selalu mungkin ada pula yang terlepas dari dekap? Ah, dengan konyolnya saat ini aku masih saja menyimpan harap pada apa yang kamu anggap tak akan pernah mungkin. Tidak apa, seperti kata seorang penyair, "kita tak memilih acara, pada angin runcing dan warna musim kau juga akan terbiasa, nasib telah begitu tertib..." 


{ 4 komentar... read them below or add one }

ViKrY'X MadZ mengatakan...

SELAMAT SOBAT MENDAPAT AWARD DARI Vikrymadz.blogspot.com silahkan diambil

Mobile App Developers mengatakan...

Very great post. I simply stumbled upon your blog and wanted to say that I have really enjoyed browsing your weblog posts. After all I’ll be subscribing on your feed and I am hoping you write again very soon!

App Development Company Gurgaon mengatakan...

It is good to see posts that give truly quality information. Your tips are extremely valuable. Thanks a lot for writing this post.Thanks a lot for sharing. Keep blogging.

Cooper Vision Biofinity mengatakan...

What you're saying is completely true. I know that everybody must say the same thing, but I just think that you put it in a way that everyone can understand. I'm sure you'll reach so many people with what you've got to say.

Posting Komentar

posting Posts Plugin for WordPress, Blogger...